1 - 14 of 14
Last book I read...
posted 12/26/2008
"Ommm" kata Sihdarta sik tukang penyeberang sungai dengan rakit bambu. Di depannya terhampar sungai yang tenang mengalir dari hulu ke hilir, itu pasti.
Tapi hidup Sihdarta, seperti laiknya sungai itu, adalah aliran yang panjang. Dulunya di sebuah waktu yang dekat dengan 'hilir' adalah Govinda teman sepermainannya yang akhirnya harus berpisah pada persimpangan pilihan untuk belajar tentang jalan lingkaran karma dan samsara.
"Hom", kata Shidharta dan dikhusukinya kini sungai yang membentang di bawah rakitnya karena sungai itu adalah guru baginya. Sihdarta yang kini merasa pembangkangannya pada Bapakknya sendiri kini terjadi pada anaknya juga. Sidharta yang merasa telah mengenyam nikmat dunia, menikahi perempuan cantik bekas pelacur bernama Kamala yang membawa Sidarta pada puncak kekayaan.
"Hom" dengung Sidharta, dan kini pelajaran yang sebenarnya dimulai di sini, di sungai di bawah perahu rakitnya, tanpa Kamala yang akhirnya mati saat menyerahkan anak kandungnya.
"Hom" dan sidharta pun mahfum mengapa pada akhirnya anaknya lari meninggalkannya.
Sihdarta karya Herman Hesse begiku adalah novel kemanusiaan, menyentuh, mempertanyakan tentang karma dan perjalanan spiritual dua orang sahabat. Seseorang memilih jalan menjadi biksu pertapa, seseorang yang lain memilih jalan pertapaan pada kehidupan nyata: "Reguk dunia lalu balikkan", kata Chairil. Seperti juga salah satu pandangan sufi bebeberapa ulama yang memilih 'bertapa di keramaian'. Menyelami hidup dan kehidupan, mengalir apa adanya seperti sungai, sampai pada akhirnya kita mengerti bahwa titik mana kita keluar dari 'lingkaran karma'. "Hommm"
Intinya 'Novel yang mencerahkan'. Aku yakin, kalau semua orang membaca novel ini, tak ada lagi perang karena SARA.
Last book I read...
posted 9/28/2008
Tak ada yang tau pasti apakah Pistol yang agak berkarat yang telah memuntahkan sebutir peluru di kepala Curt Kobain itu ditembakkan oleh tangannya sendiri atau oleh orang lain. Tetapi seperti halnya Courtney Love dan sahabat2 dekat kurt paham betul, Kurt Cobain telah merencanakan hal itu, setidaknya telah menduga kematiannya sendiri. "I hate My Self and I want to die' katanya.
Havier than Heaven adalah biografi Kurt dari semenjak kecil di kampung halaman Aberdeen, sebuah dusun kecil para kuli-kuli tambang dan penebang kayu. Kurt lahir dari keluarga Broken Home. Bahkan banyak dari lagu2 kurt terinspirasi dari dongeng masa kecilnya.
Last book I read...
posted 8/25/2008
'Veronica decide to die' alias veronika pilih maték, ini jadi novel jajaran kedua favorit selepas 'Alkemis'. Setelah mbaca novel ini rasa2nya aku ingin mencium berkali2 kepala plontos pengarangnya, Paolo Coelho.
Veronica, gadis belia tiba2 memutuskan bunuh diri. Tentu ntuk sebuah bunuh diri harus ada asbabulnuzul apa gerangan alasan bunuh diri Veronica. Apakah karena alasan pribadi? Semacam patah hati, gagal karir atau sesakit? Tapi Veronica masih sangat muda dan cantik, ia punya karir bagus sebagai pustakawan, yg berarti dia terpelajar.
Atau apa karena mencoba alasan komunal? Bahwa Veronica lahir sebuah negeri yang terpencil bernama 'Slovenia'? Artinya ia ingin jadi martir bagi negerinya itu?
Tetapi Veronica bukan soal keduanya. Ia pilih matek karena ia merasa bahwa kehidupannya telah 'mandeg'. Kalau toh terus hidup, ia dihantui kecemasan bahwa: ia akan menikah, lantas jadi ibu rumah tangga, lantas menjalani centang perentang siklus rutinitas yang baginya adalah lingkaran nonsens!
Meski akhirnya percobaan bunuh diri pertama gagal dan menyisakan vonis dokter bahwa hidupnya tinggal beberapa hari lagi karena efek obat dosis tinggi yang diminumnya. Iapun ditampung dalam rumah sakit Jiwa yang juga tengah meneliti 'gangguan' jiwa Veronika. DI hari-hari terakhir rumah sakit jiwa, Veronika menemukan pasangan 'gila' nya, seroang pemuda 'pzikofrenik' bernama eduard. Dan untuk bertahun2 lamanya eduard bisa berkomunikasi dengan dunia 'nyata' selain dengan dunia pzikrofrenia nya. Keduanya akhirnya menyembuhkan diri meskipun tepat pada saat-saat terakhir vonis kematian Veronika. Pada saat kematian yang nyata, bukan karena usaha bunuh dirinya sendiri, Veronika benar-benar bisa menikmati hari hari terakhir hidupnya. Pada saat itu pula Veronika memilih sebisa mungkin untuk 'terjaga', tidak memejamkan mata sampai pada saat terakhir maut menjemputnya.
Si Veronika pun sukses melewati kematiannya yang kedua, bahwa ternyata ia masih diberi kehidupan yang lebih panjan
Last book I read...
posted 8/19/2008
"Aturan pertama dalam Fight Club adalah dilarang menyinggung soal fightclub, aturan kedua dilarang berbicara soal fight club!"
Sebuah novel yang jujur, jorok sekaligus vulgar. Satire tentang kehidupan metro-kapitalis. Ada Dildo, Kondom yang mengapung di closet, napalm, sampai bagaimana detail merakit bom dari larutan nitroglycern. Semua berangkat dari tokoh 'Aku' yang menderita insomnia akut, sampai-sampai keluarlah dari dirinya sebentuk sosok lain bernama 'Tyler'. 'Aku' dan Tyler menciptakan 'Fight Club'. Lantas menjalar anggota2nya dari akunting, pelayan restoran, bos-bos kerah putih sampai security airport.Di 'Fight club' adalah ritual pembebasan dan balas dendam pada dunia 'siang bolong' yang dipenuhi 'aturan2' yang ketat sistem kapitalisme yang penuh dengan kebobrokan yang mau tak mau harus mereka lakoni. Terkecuali, pada malam hari, di basement, di bar-bar yg gelap, anggota2 fight club berkumpul, untuk saling berkelahi sampai berdarah2.
Sampai akhirnya, 'fight club' tak bisa terkendalikan lagi, ketika manifest adalah mereka menghancurkan 'lambang' kapitalisme berupa gedung 'Parker Palace' (yg mirip WTC?). Sebuah pasukan 'Space Monkey' didikan Tyler mulai merencanakan Bom yg menghancurkan Parker Palace, simbol kemenangan mereka.
Sebelum bisa mengenali bahwa 'Tyler' tak lain tak bukan adalah sosok 'Aku' yang muncul dari psikrofenia, kita dijejali dengan pertanyaan pertanyaan misterius tentang siapakah sebenarnya 'Tyler'?
Hmm, sudut pandang novel ini yg unik seperti mempertanyakan dan memerintah pikiran kita sendiri secara bertubi-tubi:
'You wake up at JFK!'
'You wake up at LAX!'
'You wake up at ....'
Yah, tiba-tiba saja kita terjaga, dan di suatu tempat yang lain, menemu orang2 lain, bahkan menemu diri kita sendiri, sesosok 'psikrofrenik' dari dendam kita yang akut akan sistem kapitalisme saat ini.
Sayang, 'fight club' hanya dongeng fiktif semata, meski nobel ini difilmkan & oleh para pembacanya banyak yg bilang 'Saya pingin gabung 'fightclub!
Last movie I saw...
posted 6/29/2008
Dibuka dengan matinya band 'Greenday'akibat tenggelam di danau springfield dan dilempari warga Springfield, merupakan gambaran 'konyol' ketidak pedulian warga springfield pada pencemaran di daerahnya. Namun, atas kegigigan Lisa didampingi seorang pemuda Iris (yang membuat Lisa Jatuh Hati) akhirnya warga Springfield berusaha membersihkan danau nya yang tercemar. Seperti sequel2 sebelumnya, selalu saja ulah Si Homer 'konyol' memicu masalah2 besar lebih lanjut.Nah, kekonyolan Homer dimulai disini. Tak sengaja Homer membuang 'Spider pig craps missile', alias kotoran hewan peliharaan Homer yang baru--"Spider Pig" ke danau Springfield, karena takut tak kebagian antrian donnut.
Sampai akhirnya EPA (Environmental Protection Agency) memutuskan mengisolasi Springfield dengan kubah raksasa karena dianggap berbahaya bagi kota2 lain. Warga Springfield jadi menderita, hari ke hari kekurangan makanan, dari BBM sampai Botox. Sampai akhirnya, polisi menemukan biang pencemaran danau Springfield tak lain tak bukan 'Spider pig missile Craps'-nya Homer. Warga marah dan Keluarga Homer diburu seluruh warga Springfield. Homer sekeluarga harus menyelamatkan diri dan keluar dari 'Kubah raksasa' karena tak sengaja masuk 'lubang pasir'. Petualangan keluarga dimulai disini, Maggie yang merasakan pernihakahannya terancam karena Homer telah menjadi pria yang tidak peduli pada keluarganya, Lisa yang jatuh cinta pada pemudia Iris dan harus berpisah, Bart yang rindu pada sosok 'ayah', dst. Sampai akhirnya Homer terbuka matanya untuk menyelamatkan kota Springfield, tepat pada saat2 terakhir springfield diancam akan dihancurkan dengan 'Bom' oleh EPA.
Lewat keberanian Homer mendaki 'kubah' dengan motor, dan membuang bom, kubah Springfield berhasil diledakkan dan Homer jadi Pahlawan. Homer mendapatkan 'tepuk tangan' dari seluruh warga springfield dan menemui keluarga Homer rukun kembali.
Film ini memang banyk bertutur soal 'kerusakan lingkungan' dan pesan2 moral tentang hubungan dalam keluarga.
I'm currently listening to...
posted 6/27/2008
Kalau aku mau review, Album ini adalah deretan balada, musikalisasi puisi dan cuplikan 'fenomena sosial' pada kurun jaman tertentu di mana Bob dylan tinggal. Bob dylan, kalau ada yang belum tahu adalah 'Iwan Fals' nya Amerika serikat, yang pernah dapat nominasi nobel perdamaian karena lagu-lagu nya yang bertema 'humanisme'. Meskipun, yah kupikir 'Iwan fals' bukan apa2 nya Bob dylan dan ada kecurigaanku soal 'Iwan fals' meniru atau setidaknya berkiblat pada bob dylan. Bob dylan sudah lahir lebih dulu, Di usianya kini, sampai dengan album terakhir Bob dylan yang dirilis dari studionya sendiri 'Modern Times', berarti sudah 5 dekade lebih! Maka Gratist hit's of Bob Dylan ini tentu saja hanya sempilan kecil dari karya-karya Bob dylan yang diambil dari lusinan Discographynya. Album ini dibuka dengan single 'Blowing with the wind', yang sempat jadi title film yang sama. Lagu yang puitik yang diarransemen dengan gitar akustik dan harmonika. Disambung kemudian dengan "The Times They Are A-Changin" yang menceritakan soal kegelisahan dylan pada perubahan sosial di masanya, tema melankolik "Subterranian homesick" yang bersoal soal pilihan untuk berpisah karena tidak cocok dengan kekasihnya. Di album ini juga ada 'Like a rolling stone' yang diarransemen ulang oleh band lokal Indonesia (saya lupa namanya) dan jadi sound track nya film 'Gie'. Lalu disambung dengan 'Mr Tambourine man' yang kalau ndak salah berkisah tentang seorang 'nelayan'. Di akhir lirik 'Mr Tambourineman' ini dikutip seperti ini
"Driven deep beneath the waves, Let me forget about today until tomorrow" (Berkelana jauh menembus ombak, Biarkan aku lupakan hari ini sampai besok...".
Deretan sesudahnya ada 'I want you', 'Positively 4th street' dan terakhir ditutup dengan 'Just Like a Women'.
Last book I read...
posted 6/4/2008
Jalan raya pos adalah piknik ke masa lalu, menyusuri sejarah-sejarah kota-kota di pantai utara dan sekitarnya dari ujung Anyer sampai ke Panarukan. Di satu sisi ini adalah kisah 'obsesi' Deandels yang konon terobsesi pada Napoelon. Berbeda dengan gaung 'egalite, liberte, freternite', sang Diendels memerintah Hindia Belanda dengan tangan besi.
Saat Diendels masuk Anyer, ia harus menempuk 2 hari 2 malam perjalanan darat ke Batavia. Sang Diendels sadar betul, untuk menunjang Hindia Belanda perlu dibangun struktur jalan raya pos yang menghungkan dari satu kota ke kota. Pula, untuk membendung serangan Inggris, jalur Pantai-pantai utara harus diperbaiiki untuk mempermudah mobilisi.
Nun, Diendels pun bertitah, dengan tekanan keras para bupati dan raja-raja harus mengirimkan tenaga kerja rodi. Secara mencengangkan, bahkan membuat orang-orang elit eropa waktu itu keheranan adalah waktu pengerjaaanya yang hanya kurun 1 tahun.
Jalan Raya pos, Pramoedya ini selain menutur secara runtut kisah pergolakan masuknya jalan raya pos dari Anyer sampai panarukan, juga membawa pada nostalgi perubahan sebuah 'kawasan' setelah masuknya jalan raya pos. Juga sedikit keterangan tentang sejarah pelabuhan-pelabuhan pantai utara yang konon, jepara adalah pulau terpisah dan semarang adalah urugan rawa-rawa. Kadangkala Pram menuliskan tentang hal-hal yang tertinggal di masa kini.
Jalan raya pos, kupikir juga menjadi kajian sejarang yang unik dilihat dari pespektif masuknya dibangunnya 'jalan raya'.
Disebutkan pula konon pembangunan jalan raya ini termasuk 'genocida' setelah 'genocida' yang dilakikan jendral Jean Peterzon, (saya lupa prediksi angkanya). Hampir kesemyanya meninggal karena kelaparan, sakit dan malaria yang ganas.
Jalan raya pos adalah saksi bisu, yg kini masih menjadi jalur aktif utama yang penghubung jelujur utara Pulau jawa.
Pun, atas jalan pos Diendels ini, pengganti berikutnya Raffles, yang lebih santun, dalam kurun pendek pemerintahannya bisa menulis 'history of java'
I'm currently listening to...
posted 6/2/2008
Ada tiga lagu yang kusuka dari album 'Fender Guitar master ini'. Kesemuanya hampir bertema sama,soal 'loneliness', 'emptyness' dan kesedihan. Di 'Stranger in this town' milik Richie sambora, lirik nya lugas, berkata soal aleniasi di lingkungan kota. Stranger in this town!, mengingatku pada lagu 'Englishman in new york' dan tentu 'wish you were here' nya pink floyd. Penghubungnya adalah ketiga lagu itu dikompail dengan instrumen gitar para 'satria bergitar', masing-masing dengan ciri berbeda di tiap bandnya, pink floyd dengan psikedelik, richie sambora dengan pekikan fender elektrik gitar dan sting dengan aroma pop rock jazz.
Nah, kalau Kenney Wayne di 'While we cry': kupikir instrumen gitar solonya itu seperti bernyanyi, meraung-raung, menangis-nangis. Memang tak perlu lirik disini, bahkan kalau perlu tidak ada tittle sama sekali. Ada aroma blues yang gelap milik 'si topi SRV' dan nada tinggi menyayat-nyayat.
Kemudian, satu lagi tak kalah dahsyat, instrumen solo gitar Jeff beck dalam tittle 'Where were you'. Tak ada hentakan drum, hanya solo gitar dengan minim efek. Seakan-akan kita dibawa pada suasana ruangan kosong dan kecemasan yang mencekat. Aku bisa menduga jeff beck menaruh title 'where were u' pada saat instrumen itu sudah selesai, atau mungkin orang lain menaruh tittle lagu untuknya. Tak penting!
Ah, Tak lupa, di album ini ada 'Spanish castle magic'nya Jimi Hendrix. Aku tak tahu mengapa bukan 'purple haze' atau bahkan 'live solo'-nya jimi hendrix saat di 'woodstock 79' yang ditaruh di kompilasi 'Fender Guitar Masters' ini? Bukankah di live solo di hari terakhir woodstock 79 itu Jimi hendrix juga menggunakan 'fender telecaster' nya yang berwana putih dan dipakaianya dengan kidal itu? Dan kupikir kepiwaiannya memainkan fender di tangannya--sambil mengisi vokal, gitarnya ikut bernyanyi, dengan mudahnya ia bertraksi membalikkan setang gitar, memetik gitar dengan lidah--membuat ribuan para 'flower generation' tercengang. Dan Jimi hendrix adalah kulit hitam
I'm currently listening to...
posted 5/9/2008
Langsung dibuka dengan petikan akustik gitar, pelan tapi pasti, menggeret pada suasana sendu, membuat arransemen lagu ini beda dengan lagu2 sebelumnya,dari album "the piper at the gate of Dawn" sampai "the wall" yang bergaya Psikedelik.
Judulnya yang tersurat memang sederhana "Berharap kau disini". Tak ayal album ini laris manis. Bak 'pil kinine' dibungkus 'gula2', yang tersirat dibalik arransemen dan judul yang nge-pop itu, terdapat lirik yang dalam dan puitik khas pink Floyd. Selain interpratasinya yang susah, tak jarang harus merujuk referensi dari karya2 sastra. Seperti album "Animals" yang berbicara tentang novel 'animal farms' karya george owel, memapar tokoh2nya satu demi satu dalam sequel lagu dari "the pig", "the dogs" sampai "the sheep".
Tebakan awal, lagu 'Wish u were here' ini seakan hanya rintihan tentang 'kerinduan'. Tapi kemudian, kita akan dibawa pada pertanyaan2 'berat';
"So, so you think you can tell/ Heaven from Hell,/ Blue skys from pain./ Can you tell a green field / From a cold steel rail?"
(Jadi,apakah bisa kau duga, Surga dgn Neraka, Birunya langit dari nestapa, Apakah bisa kau terka sebuah ladang yang hijau dari sebuah kebekuan jelujur rel-rel besi?)
Belum selesai pada metafora2 itu, kita dijejali lagi dengan retorik ini:
"A smile from a veil? Do you think you can tell? /And did they get you to trade /Your heros for ghosts? Hot ashes for trees?/Hot air for a cool breeze? Cold comfort for change? And did you exchange / A walk on part in the war /For a lead role in a cage?)
Meski akhirnya,jawabannya sederhana;
/We just two lost soul swinging in the fish bowl, Year after year, Running over the same old ground.What have we found? The same old fears/
Konon, liriknya berbicara tentang 'Alienasi'. Tentu bukan pink FLoyd kalau tidak membawa konsep2 berat seprti itu.
Nah, untuk saat ini saya cukup memilih arti yg 'dangkal'-nya saja, mendengarnya berulang2 hanya karena lagu ini 'sepertinya' cocik dgn suasana hati saya.Kangen!
I'm currently listening to...
posted 5/9/2008
Mendengar "Money for Nothing", langsung dibuka melodi gitar Sting dan Mark Knopler. Sebuah perpaduan cantik suara seksi Sting, dan
raungan gitar sang "Sultan of Swing" Mark Knopler. Lagu ini sendiri
bercerita tentang awal mula MTV.Para pemusik dengan gigih bermain di MTV
meski, kadangkalah harus mengorbankan duitnya sendiri untuk bisa
mengudara. Semangat Indie band dimulai di sini. Masih dicaci-caci oleh para
publik sebagai televisi yang menayangkan orang-orang yang tak punya
tujuan yang menggagap bermain band adalah "money for nothing" "Uang untuk
hal tak nihil"
...You play the guitar on the MTV/ That ain't workin' that's the way
you do it// Money for nothin' and chicks for free/ (Kau bermain gitar di
MTV/ Tidakkah itu penting dan berlaku/Membelanjakan uang dengan sia-sia
dan hal tolol gratis.../
Lalu diceritakan pula dengan buruk tentang orang-orang saat itu yang
gila belanja.
We gotta install microwave ovens/Custom kitchen deliveries/We gotta
move these refrigerators/ We gotta move these colour TV's
I'm currently listening to...
posted 4/28/2008
Tak banyak yang tau kalau pengarang "Big Yellow Taxi" adalah Joni Mithel. Ketika diaransemen ulang oleh Counting crows, lagu itu punya nuansa beda. Dari rasa folksong yang kental khas flower generation era 70'an , menjadi pop rock yang rancak ala 90'an. Aransemen ini memang Tribute Counting crows untuk Mbak Joni Mithel.
Sebagai pengarang lagu Joni mithel banyak bertemakan kritik sosial yang cerdas;
Simak lirik pembukanya :
"They paved paradise/ And put up a parking lot/With a pink hotel, a boutique/and a swinging hot spot/ ("Mereka mengkapling2 jadi surga, menaruh banyak areal parkir/ menaruh pink hotel, boutiq/dan ruang2 hiburan/")
Saya sangat kagum atas kecerdasan mbak Joni Mitchel ini. Pada era nya pikirannya sudah melampau jauh kedepan tentang "modernisasi".
Di reff nya : "Don't it always seem to go/That you don't know what you've got/Till it's gone
(Bukankan selalu seperti itu? Kamu ndak paham apa yang kamu perbuat, sampai kesemuanya telah terjadi")
Iapun lengkapi liriknya dengan sebuah imajinasi tentang isu lingkungan deforestrasi dan kapitalisme dengan diorama yang 'menakjubkan';
"They took all the trees/And put them in a tree museum/And they charged all the people/ A dollar and a half to see 'em" (Mereka ambil sluruh pohon2, menaruhnya di museum, dan kalau mau nonton harus bayar dulu ...)
Joni mithel menyuarakan pula perihal Pertanian organik dengan lantang ;
"Hey farmer farmer/ Put away that D.D.T. now/ Give me spots on my apples/ But leave me the birds and the bees/ Please!
"Hei petani, jauhkan D.D.T sekarang, ndak apa-apa kau suntik apple2ku, tapi biarkan burung-burung dan tawon2 yang membuahinya..."
Suara lantang Joni mithel memang pedas, sampai2, ia gambarkan penculikan para petani-pembangkang...
"Late last night/ I heard the screen door slam/ And a big yellow taxi/ Took away my old man"
Sedang oleh Counting Crows, kalimat "Took my old man" diubahnya jadi "Took my girl away"
Dan Joni Mithel pun pergi selamannya
Last vacation I took...
posted 4/17/2008
Well, how to describe karimunjawa in short words? A piece of heaven I think. First time when my food step in it's land i feels all of my body and soul trembling. I welcomed by a hundreds of native eyes and smiley. They were very welcome.
All of karimunjawa surrounded by a well cleaned beach with white shore, glassy sea that you could see thousand of colourfull fishess and corals.
Life so peacefull here. Almost zero pollution! If want to drink coconut, just ask to the people and horeee!
"Put it by your self, fill your throath till you get bored!"
Everyday feels like a slowly day, fishing with a local sailor by 'jukung' (traditional raft), swimming, snorkling, playing with the local children....
Tt's almost a half mounth since I leave from that 'pieace of heaven' and my mind still stuck with it. Many memories remind, the peoples I met, Mr. Priyogo (nice teacher and also a guy with lot's of story, Mr. Bayan the old guy's who lives in the small and beutifull house...
Hmm, I found my little love there also. It's seem love always appear in every step of my journey.
Now I realize that I feels like a pilgrim who take my journey as part as my life distiny. and one of my journey had taken part in Karimunjawa....
Come on, dive into the heart of Karimunjawa
I'm currently listening to...
posted 1/13/2008
wew! Kaget juga saat menemu dikau sang 'Elvis Costello' dalam lagunya 'Oliver army' pada YouTube. Elvis costello memang tak sepopuler Elvis presley, tapi setidaknya salah satu lagunya 'she' pernah merias film 'nothing hills' yang akhirnya mentenarkan costello sebagai pencipta lagu pop, bukan rock n roller.
Aku sendiri kian penasaran setelah menonton 'High Fidelity', genre film alternatif yang menceritakan band-band indie dan soeorang 'song compailer'. Ternyata 'High Fidelity' adalah karya Costello juga, yang lalu kucomot jadi judul blogku di fs.
Oiya, tentang review 'Oliver Army';
Lagu ini sangat fasih dan detail menggambarkan pajurit-prajurit era Winston Churchil, era PD II sampai saat perang Vietnam.
sang costello pun tak lupa sisi 'depresif' para serdadu itu, dengan lucu;
Don't start me talking/ I could talk all night
My mind goes sleepwalking/ While I'm putting the world to right/ Called careers information
Have you got yourself an occupation
Lagu-lagu costello memang banyak yang bertemakan 'kritik sosial', penggambaran fenomena2 sosial politik di zamannya. Dikemas serta 'jenaka', seperti ;'radio-radio', 'veronica' dsb
Dalam klip oliver army yang dibuat th 70an itu juga gambaran sang oliver army membuat saya tersenyum geli.
Ia juga menyebut istilah 'Charlie', isu rasialis di kalangan tentara sampai gambaran para istri serdadu yang selalu cemas menjadi janda.
There was a checkpoint charlie/He didn't crack a smile
But it's no laughing party/When you've been on the murder mile/Only takes one itchy trigger
One more widow, one less white nigger
Arransemennya dibuat rancak, rock n roll dengan iringan orgenal gereja membuat terkesan meriah, mengajak berdendang, sekaligus menutupi bahwa lagu itu adalah 'sindiran'.
Last book I read...
posted 1/13/2008
Yups, let me start to talking bout this book while I have been reading for another Poloe Coelho books 'Veronica decide to die'.
I don't remember exactly 'bout 'alchemist', the first coelho books' I've read. so it's little bit difficult to compare between two different of his works.
If Alchemist bring me to such of this question: 'what's is my real own 'privat legend', then read 'Zahir' it's give me little bit disspointment. Even I found different kind of Coelhoe writing style that's it's looks like 'the author experience point of view'. In the term of this situation, I always worry 'bout my own consiousness if the author is a layer and a the story is fake! Even, again the tragedy bring me to such more anxious 'bout the author life it self, not his works.
In Zahir, the story bring us to such a question about 'that you really happy with your life?', and an extraordinary experience that a man looking for his 'Zahir', that's it could be an another transformation of his 'privat legend'.
1 - 14 of 14